Detail Berita

Puasa Ramadan Jadi Tantangan Baru Bagi Rafiud Drajat

17 Maret 2026

Bulan Ramadan menghadirkan pengalaman berbeda bagi bek kanan Persela Lamongan, Rafiud Drajat. Untuk pertama kalinya sejak bergabung dengan tim berjuluk Laskar Joko Tingkir, ia menjalani kompetisi sepak bola sambil menunaikan ibadah puasa.


Pemain yang telah memasuki musim ketiganya bersama Persela Lamongan itu mengakui, menjalani latihan dan pertandingan di tengah ibadah puasa tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Menahan lapar dan dahaga saat tetap dituntut tampil maksimal menjadi bagian dari adaptasi yang harus dijalani.


“Latihan saat puasa memang terasa berat, terutama di awal. Tapi sekarang sudah memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, alhamdulillah sudah mulai terbiasa,” ujar Rafiud.


Menurutnya, situasi ini berbeda dengan musim-musim sebelumnya. Pada tahun-tahun lalu, kompetisi biasanya telah berakhir sebelum Ramadan dimulai, sehingga pemain tidak perlu menjalani agenda pertandingan di bulan suci.


Untuk menjaga kondisi fisik tetap prima, Rafiud menerapkan pola sederhana namun disiplin. Ia menekankan pentingnya asupan nutrisi saat sahur serta menjaga waktu istirahat agar tubuh tetap bugar sepanjang hari.


“Saya biasanya memilih makanan yang banyak proteinnya saat sahur supaya tenaga bisa bertahan sampai sore. Setelah tarawih juga tidak terlalu larut malam, langsung istirahat, lalu bangun sekitar jam tiga untuk sahur,” jelasnya.


Di balik kesibukan sebagai pesepakbola profesional, Ramadan tahun ini juga terasa berbeda karena Rafiud harus menjalani puasa jauh dari keluarga di kampung halamannya, Pinrang, Sulawesi Selatan. Meski begitu, ia tetap berusaha menikmati setiap momen yang ada.


Hal yang paling ia rindukan dari Ramadan di kampung adalah kebersamaan dengan teman-teman lama. Biasanya, bulan puasa menjadi waktu berkumpul bagi para perantau yang pulang ke daerah asal.


“Biasanya kami main bola bareng teman-teman. Saat Ramadan banyak yang pulang kampung, jadi bisa kumpul semua,” katanya.


Meski jauh dari keluarga, Rafiud merasa nyaman menjalani Ramadan di Lamongan. Lingkungan yang mendukung serta fasilitas yang dekat dengan tempat ibadah membuatnya tetap bisa menyeimbangkan aktivitas latihan dengan ibadah.


“Di Lamongan menurut saya enak. Tidak terlalu ramai tapi juga tidak sepi. Cari makanan mudah, dan mess juga dekat masjid jadi ibadah tetap lancar,” ungkapnya.


Bagi Rafiud, Ramadan menjadi momen untuk menjaga keseimbangan antara disiplin latihan, kebugaran fisik, dan kekhusyukan beribadah. Ritme baru ini kini mulai ia nikmati, seiring perjalanan kompetisi dan hari-hari puasa yang terus berjalan.

Comments

ads bottom
    Sponsor Utama :
  • Sponsor Pendukung :